SOLOK SELATAN | Langit masih gelap ketika langkah-langkah warga mulai mengarah ke masjid. Di antara mereka, tampak sosok Kapolres Solok Selatan AKBP M. Faisal Perdana yang hadir bukan sekadar sebagai aparat, melainkan bagian dari jamaah yang larut dalam kekhusyukan salat subuh berjamaah.
Kegiatan ini menjadi potret nyata bagaimana pendekatan humanis kepolisian terus dibangun. Melalui Gerakan Subuh Berjamaah (GSB), Polres Solok Selatan berupaya menghadirkan wajah Polri yang lebih dekat, hangat, dan membumi di tengah masyarakat.
Tak hanya sekadar ibadah, momentum subuh berjamaah itu berubah menjadi ruang komunikasi tanpa sekat. Usai salat, percakapan ringan hingga diskusi serius mengalir, menghadirkan suasana yang jauh dari kesan formal dan kaku.
Tema besar yang diusung, “Sumatera Barat Bebas dari Narkoba”, menjadi pengingat bahwa ancaman narkotika masih membayangi. Di balik suasana religius, terselip pesan kuat tentang pentingnya kewaspadaan kolektif terhadap bahaya laten tersebut.
AKBP M. Faisal Perdana menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas simbolik. Ia melihatnya sebagai strategi membangun hubungan emosional antara polisi dan masyarakat, sesuatu yang tidak bisa didapat hanya melalui patroli atau rapat resmi.
Menurutnya, kehadiran polisi di tengah masyarakat harus terasa nyata. Dengan duduk bersama, beribadah bersama, dan mendengar langsung keluhan warga, aparat bisa memahami persoalan secara lebih utuh.
Pendekatan ini juga menjadi bagian dari implementasi Polri Presisi yang menekankan prediktif, responsibilitas, serta transparansi berkeadilan. Polisi tidak lagi hanya hadir saat masalah muncul, tetapi aktif membangun kedekatan sejak awal.
Namun di balik apresiasi yang mengalir, muncul pula suara-suara kritis. Sejumlah pihak menilai bahwa kegiatan berbasis seremonial seperti ini perlu diimbangi dengan langkah konkret, terutama dalam membongkar jaringan narkoba yang lebih besar.
Mereka mengingatkan bahwa pendekatan spiritual memang penting, tetapi tidak boleh menggantikan ketegasan penegakan hukum. Tanpa tindakan yang konsisten, upaya pencegahan dikhawatirkan tidak akan memberikan dampak signifikan.
Meski demikian, banyak tokoh masyarakat justru melihat program ini sebagai langkah strategis. Kehadiran polisi di masjid dinilai menciptakan rasa aman sekaligus memperkuat nilai kebersamaan yang mulai tergerus.
Interaksi langsung yang terbangun dinilai jauh lebih efektif dibandingkan komunikasi formal. Warga merasa lebih leluasa menyampaikan aspirasi, bahkan persoalan sensitif yang selama ini sulit diungkap.
Gerakan Subuh Berjamaah juga membawa dimensi lain, yakni edukasi moral dan spiritual. Terutama bagi generasi muda, kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya nilai agama sebagai benteng menghadapi pengaruh negatif.
Dalam suasana yang sederhana, pesan-pesan besar disampaikan: bahwa narkoba bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman terhadap masa depan generasi.
Ke depan, harapan publik mengarah pada keberlanjutan program ini. Masyarakat ingin Gerakan Subuh Berjamaah tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi menjadi gerakan yang terintegrasi dengan kebijakan nyata lainnya.
Langkah yang diambil AKBP M. Faisal Perdana menunjukkan bahwa keamanan tidak hanya dibangun dengan kekuatan, tetapi juga dengan kedekatan dan kepercayaan. Pendekatan sosial dan spiritual menjadi fondasi yang tak kalah penting.
Pada akhirnya, efektivitas program ini akan diuji oleh konsistensi dan hasil di lapangan. Jika sinergi antara aparat dan masyarakat terus terjaga, bukan tidak mungkin Solok Selatan akan menjadi contoh wilayah yang aman, religius, dan bebas dari narkoba.
(TIM)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar